Si Pengembara Malang
Monday, May 8th, 2006
Suatu hari,
seorang laki-laki keras kepala mendatangiku.
Ia mengaku telah
lama mengarungi lautan asmara
Demi menemukan
sebuah pelabuhan bernama Cinta Sejati.
Di hadapanku, ia
curahkan seribu kisah kasih sedih gembira,
Ia bentangkan layar
lebar petualangan penting itu–
Pertunjukan
menakjubkan berisi potret tiap persinggahannya,
Mengesankan …
sekaligus … membosankan.
Kemudian dengan
santun aku bertanya:
“Wahai Tuan
Pengembara, telah ditemukankah yang dicari ?
Sudah
terpuaskankah hasrat manusiawi di lubuk hati ?
Sudah pahamkah
Tuan akan hakekat Cinta Sejati ?”
Sang Pengembara
menutup pertunjukkan dunia khayali itu.
Ia memberiku
sebuah potretnya, menatapku tajam,
Dan dengan seulas
senyuman, di telingaku ia berbisik lirih:
“Wahai yang juga
dalam pencarian…
Cinta Sejati itu
adalah cinta yang berbuat,
Cinta Sejati itu
hanya sedikit berkata,
Cinta Sejati itu
tiada pernah kehabisan untuk memberi,
Cinta Sejati itu
tiada pernah meminta kembali,
Cinta Sejati itu
muncul beserta pengorbanan diri,
Cinta Sejati itu
hadir berbalutkan ketulusan hati,
Cinta Sejati itu
berwarnakan pengabdian tiada henti,
Cinta Sejati itu
bernafaskan ketakwaan kepada Al-Qawi,
Cinta Sejati itu
bertamengkan kepercayaan melawan yang keji,
Cinta Sejati itu
berbentengkan kesetiaan kokoh abadi,
Cinta Sejati itu
bermesinkan kesabaran diri,
Cinta Sejati itu
bersifat melindungi bukan mengekangi,
Cinta Sejati itu
tahan disakiti tapi tiada ingin menyakiti,
Cinta Sejati itu
melepaskan untuk memiliki,
Cinta Sejati itu
berbuahkan pengertian bukan pemaksaan,
Cinta Sejati itu
berakhir dalam kecanduan bukan kebosanan,
Cinta Sejati itu
membuktikan bukan menjanjikan,
Cinta Sejati itu
mengalirkan perhatian tiada tertahankan,
Cinta Sejati itu
menerima kekecewaan tapi tiada mau mengecewakan,
Cinta Sejati itu
memberi kesempatan hidup dan berkembang,
Cinta Sejati itu
menilai dengan kebesaran jiwa bukan kepicikan,
Cinta Sejati itu
memutuskan dengan kebijaksanaan bukan keegoisan,
Dan Cinta Sejati
itu, barangkali, sempurna terwujudkan dalam istana pernikahan.
Wahai yang juga
dalam perjalanan…
Telah kuhabiskan
waktu ‘tuk mengejar bayangan kebahagiaan,
Sedangkan aku tahu
kebahagiaan itu bersembunyi dalam hatiku.
Ku cari dan ku
jelajahi daratan-daratan indah menawan,
Sedangkan aku
paham itu hanyalah persinggahan.
Akhirnya,
kesedihan pada setiap perpisahan dengan mereka;
Pedih, kecewa, dan
luka saat bersama mereka, terukir berkali-kali di dada ini.
Kebahagiaan
sementara ketika menemukan tanah impian itu,
Hanyalah
kesenangan maya menemukan buah-buahan di tengah kelaparan;
Setiap buah yang
ku telan melahirkan lagi rasa lapar.
Walau aku telah
diberitahu Tuhanku Yang Maha Agung
Bahwa usaha
pencarianku hanya akan sia-sia
Dan bahwa akhir
pengembaraanku adalah Takdir-Nya,
Kekerasan hati
membutakan mataku melihat petunjuk-Nya;
Ketidak sabaran
mengantarku ke dalam neraka penyesalan;
Dan ketidak
patuhanku ditemani derita ketidak pastian berkepanjangan.
Kini aku telah
berhenti mencari hakekat yang telah kupahami.
Walau aku pun
terbakar oleh api kebijakanku sendiri,
Tapi aku bukan
tamu yang tak tahu berterimakasih
Aku tak ingin
menekurkan wajah-wajah gembira para pribumi itu
Dengan
membangkitkan tangis pilu melepas pesona sang tamu terhormatnya.
Biarlah daratan
ini menjadi persinggahan terakhirku
Karna aku pun
telah menanam sebatang pohon harapan di tanah ini
Dan menunggu masa
untuk memetik buah kasih abadi yang ku impi.
Namun bila prahara
teka-teki Penguasa Alam memusnahkan harapan terakhirku
Dan bila ini juga
ternyata bukan pelabuhan itu…, aku akan pulang,
Dan mengakhiri
perjalanan panjang melelahkan tanpa hasil ini.
Alangkah baiknya bila ku perbaiki dan ku perindah
pelabuhanku sendiri,
Karna aku percaya
akan keadilan Sang Pencipta;
Keinsyafanku ‘tuk
berangkat menuju dunia kebijaksanaan
Dan mengobati luka kedunguanku dengan ramuan
introspeksi
Takkan dicampakkan Tuhanku ke dalam lemari besi
‘tidak peduli’-Nya.
Ia akan pertemukan
aku dengan cinta sejatiku, sama baik atau buruknya denganku,
Suatu hari nanti….
Wahai yang masih
berada dalam lingkaran kebingungan…
Ketidakadilan yang
kau lempar jauh ke jurang kegelapan tak berujung,
Bagi Tuhanmu,
bagaikan sebuah meteor jatuh menyala terang di malam kelam
Yang tiada pernah
lupa Ia kembalikan dengan panah api Keadilan-Nya.
Benih Kesabaran
yang kau tebar di ladang suburmu,
Suatu saat, akan
tumbuh menjadi pohon pelindungmu dari serangan kepanasan
Karna panah api
Keadilan Tuhanmu itu pun melebur menjadi pupuk Kasih Sayang.
Semoga perihnya
sayatan pedang kebijaksanaanku dapat mengajarimu sesuatu.
Semoga kebodohanku
tidak menimpa hari-hari mujurmu.
Semoga kekerasan
hatiku tidak mengalir dalam darahmu.
Dan semoga bisa
kau petik buah manis petualangan cintaku.”
Kemudian, si
Pengembara Malang itu pun berlalu dari hadapanku.
Aku pun tercenung
dan bersyukur kepada Rab-ku,
Betapa dalam
hikmah yang Ia tunjukkan kepadaku.
Cinta memang
sebuah rahasia besar Sang Maha Kuasa.
Cinta memang
datang tanpa diminta, lewat dari pintu ‘tak terduga’.
Cinta sungguh
sering hilang tanpa berita melalui jendela ‘tiba-tiba’.
Keanehan dan kerumitan
cinta masih tetap misteri terindah-Nya.
Cinta harus hadir
diiringi sahabat-sahabatnya;
Teman setia yang
menghibur di kala duka
Sekaligus lawan
abadi yang menyerang di suasana gembira.
Cinta memang tiada
bisa hidup sendirian;
Tanpa kawan, ia
merana dalam hantaman kehampaan,
Bersama mereka
pun, ia tertekan dalam damainya keriaan.
Berapa banyak
definisi cinta tercipta,
Dan tak terhitung
pujangga menyusun kalimat untuknya,
Namun, adakah
hakekat cinta itu di lidah manusia ?
Cinta yang murni
itu turun dari haribaan Ilahi
Mewarnai
kehambaran hidup para hamba-Nya di dunia,
Tidak peduli
apakah mereka hamba setia atau durhaka-Nya.
Yang setia
memeliharanya baik-baik dalam lembar rahasia hati
Memancarkan
kehangatan cinta itu diam-diam dari sikap dan sorot matanya;
Ia paham, tak ada
kepastian cinta di luar mahligai rumah tangga.
Yang durhaka
menghadiahkan cinta itu pada kerakusan nafsunya
Tunggang langgang
ia terhempas diterjang tangan-tangan kekecewaan;
Semoga suatu masa
keinsyafan serupa menghinggapinya.
Dan ku teringat
kembali nasib si Pengembara Malang,
Ku doakan ia
menemukan pelabuhan Cinta Sejati-nya,
Ku doakan ia
senantiasa teguh dalam pendirian dan keyakinannya
Dan ku doakan ia
tetap tegar dalam kelembutan hatinya
Karna, yang ku
tahu…
Lelaki yang baik
memiliki kelembutan hati seorang wanita,
Dan wanita yang
baik mempunyai keteguhan hati seorang pria.
Potret itu ! Aku
belum melihat potret yang diberikannya.
Namun … alangkah
kaget dan bingungnya aku, karna …
Itu adalah potret
kekasihku … dan … aku ! ! !
www.hanafiannoy.blogspot.com